<?xml version="1.0" encoding=""?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AbulaMedia.com &#187; alam</title>
	<atom:link href="http://abulamedia.com/tag/alam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abulamedia.com</link>
	<description>Belajar ngeBlog dengan Hati untuk Berbagi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 19:12:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<image>
  <link>http://abulamedia.com</link>
  <url>http://abulamedia.com/wp-content/uploads/2010/01/pavicon.ico</url>
  <title>AbulaMedia.com</title>
</image>
		<item>
		<title>Obrolan Pasca Bencana</title>
		<link>http://abulamedia.com/2009/09/13/obrolan-pasca-bencana/</link>
		<comments>http://abulamedia.com/2009/09/13/obrolan-pasca-bencana/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 17:01:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abula</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngacapruk]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[obrolan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abulamedia.com/?p=738</guid>
		<description><![CDATA[Bencana gempa bumi telah menggetarkan nurani kita. Tidak dinyana beberapa wilayah di pulau jawa menjadi porak poranda. Gempa bumi pula telah menguak tabir. Keterharuan menghinggapi hati setiap insan. Dalam serba keterbatasan, rakyat bahu membahu mengirim bantuan. Makanan, pakaian, obat-obatan, tenda, dan tentu saja uang. Bencana ini, mengajari kita, dalam segala kemegahan apa pun, kita tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong>Bencana</strong> gempa bumi telah menggetarkan nurani kita. Tidak dinyana beberapa wilayah di pulau jawa menjadi porak poranda. Gempa bumi pula telah menguak tabir. Keterharuan menghinggapi hati setiap insan. Dalam serba keterbatasan, rakyat bahu membahu mengirim bantuan. Makanan, pakaian, obat-obatan, tenda, dan tentu saja uang. Bencana ini, mengajari kita, dalam segala kemegahan apa pun, kita tidak boleh takabur. Nyawa manusia sebagai insan, bukanlah apa-apa di hadapan alam dan Sang Maha Khalik.</p>
<p align="justify">Berbagai komentar, dialog, dan obrolan pun kerap mengiringi peristiwa bencana. Berikut ini saya tuliskan cuplikan dialog (obrolan) di sebuah masjid kecil pasca shalat tarawih (sebelum jamaah tarawih pulang, sudah biasa ngobrol-ngobrol dulu):</p>
<p><span id="more-738"></span></p>
<p align="justify">“Kita berduka, bencana terus-menerus menghajar bangsa ini,” keluh si A.</p>
<p align="justify">“Ya, semoga bencana ini menjadi bencana yang terakhir,” sahut si B.</p>
<p align="justify">“Itulah yang tidak mungkin. Bencana akan terus berlangsung,” sahut si C.</p>
<p align="justify">“Maksudnya  tidak mungkin bagaimana?” sahut si B kurang paham.</p>
<p align="justify">“Ya, bencana gempa memang kehendak alam. Namun bencana banjir dan longsor yang sering terjadi, kebanyakan disebabkan oleh ulah manusia,” kata si C.</p>
<p align="justify">“Bagaimana maksudnya, kok bencana menjadi ulah manusia?” tanya si B.</p>
<p align="justify">“Contohnya banjir, itu kan karena ada  pihak (terutama yang bertanggungjawab pada permasalahan) yang tidak memperhatikan pengelolaan saluran air dan sungai. Memang tidak sedikit warga yang membuang sampah ke sungai-sungai hingga jadi tersumbat. Nah pas musim hujan, aliran air jadi terhenti, lalu meluap kemana-mana. Tetapi sementara itu, pihak yang  bertanggung jawab pada permasalahan malah gencar mereklamasi dan mengkonversi pantai menjadi perumahan mewah, lapangan golf, mall, dan lain-lain. Akhirnya terjadi banjir deh,” kata si C menjelaskan.</p>
<p align="justify">“Mantap betul nih penjelasan Sdr. C ini. Lanjutin dong, biar kita semua makin mudeng alias paham,” sahut si D sembari duduk santai.</p>
<p align="justify">“Longsor misalnya, itu kan karena hutan-hutan terus ditebangi. Menurut salah satu LSM yang berdomisili di Jakarta sana, Pulau Jawa sudah berada dalam tahap rawan banjir dan lonsor yang parah. Apabila musim hujan datang, banyak desa-desa mengalami banjir dan tanah longsor. Itu kan diakibatkan hutan-hutan yang semakin gundul,” lanjut si C menjelaskan.</p>
<p align="justify">“Pulau Sumatera juga dengar-dengar sudah mulai rawan banjir dan longsor. Setelah bencana asap pembakaran hutan, Sumatera akan memasuki masa menderita banjir dan longsor. Lagi-lagi kita, rakyat lah yang akan menderita,” kata si A menambahkan.</p>
<p align="justify">“Makanya, kita harus kembali ke kearifan nenek moyang kita. Hutan, tanah, kebun, ladang, sungai, dan seluruh alam punya harkat dan martabat. Kita harus menghargai itu. Ayo kita tanami hutan dan bukit-bukit gundul, lereng-lereng yang terjal, dengan berbagai tanaman produktif. Kita tanami dengan pohon yang akarnya kuat dan besar-besar. Kita bikin hutan kita kaya dengan berbagai pohon buah-buahan, kayu keras, kelapa, dan berbagai jenis lainnya,” kata si B mengakhiri obrolan.</p>
<p align="center">***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abulamedia.com/2009/09/13/obrolan-pasca-bencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

