parade-puisi-cinta

Puisi ini diper­sem­bahkan buat seorang wanita  pujaan hati *)

00-00-00-0

Sekian lama aku menyayangimu. Sekian lama aku men­cin­taimu. Selama itu pula aku menyangka: bahwa kamu mem­ben­ciku, bahwa kamu tak menyayangiku, bahwa kamu tak mencintaiku.

Selama itu pula aku hanya diam tak ber­buat apa-apa.

Seiring waktu yang terus ber­lalu. Sam­pai akhir­nya kuputuskan untuk ung­kapkan segalanya kepadamu. Ten­tang per­asaanku padamu, ten­tang rasa sayangku padamu, ten­tang rasa cin­taku padamu.

Ter­nyata aku salah menilai per­asaanmu padaku selama itu. Ter­nyata kamu tak mem­ben­ciku. Ter­nyata kamu masih men­cin­taiku. Ter­nyata kamu masih menyayangiku

Benar­kah yang mereka katakan, “aku tak punya hati” ? Aku tak punya hati? Lalu kenapa selama itu aku selalu menangis bila rin­duku padamu tak ter­tahankan? Kenapa pula aku menangis saat mereka meng­atakan “aku tak punya hati”? Bukan­kah hati yang menangis itu karena ter­sen­tuh dan ber­arti ada? Sam­pai sejauh itukah mereka menilai dan menuduhku?

Bingung tak tahu lang­kah. Harus­kah aku ber­sujud di hadapan mereka? Atau hanya diam, di antara keraguanmu ter­hadap cintaku?

Akhir­nya, aku pun temukan, apa yang harus kulakukan. Aku tak akan hiraukan mereka. Mereka bebas menilaiku. Karena aku yakin bahwa hidup adalah anugerah yang tak ter­hingga. Aku dan kamu ter­cipta untuk selalu bersama.

Aku tak ingin kau ragukan lagi cintaku.

Akan aku ben­tangkan sayap-sayap cinta. Kita akan ter­bang ber­sama. Men­jalin kasih. Men­jelang hari yang indah, dan wujudkan segala yang ter­pen­dam dalam angan.

00-00-00-0

*) Kini wanita ter­sebut adalah ibu dari anak-anaku.

00-00-00-0

Puisi ini disajikan dalam rangka turut ber­par­tisipasi dalam sebuah acara ung­gulan men­jelang Hari Ibu, yang digelar oleh Pakde Cholik yang ber­tajuk Parade Puisi Cinta. Bagi yang belum dan mau ber­par­tisipasi silakan lang­sung men­daf­tarkan puisinya melalui link Parade Puisi Cinta.

Related Post