Ter­nyata ide pos­ting bisa datang dari mana saja. Hal ini saya ketahui dari ber­ba­gai komen­tar yang masuk pada tulisan Ber­bagi Cara Men­dapatkan Ide pos­ting . Seperti kita ketahui meng­update blog, dalam hal ini mem­pos­ting tulisan di blog, merupakan aktivitas wajib seorang pengurus blog. Akan tetapi, aktivitas meng­update blog sering kali ter­ken­dala dengan tidak adanya ide (gagasan bahan tulisan) untuk diposting.

Ber­ba­gai hal (setiap orang bisa ber­beda) melatar­belakangi tidak adanya ide, kering­nya gagasan, fase unp­roduk­tif. Kon­disi ini wajar adanya karena inilah kedinamisan hidup. Dinamika ngeblog sekaligus tan­tangan di dunia blog.

Pada pos­tingan kali ini saya men­coba merang­kum semua komen­tar yang masuk (serius, kocak, ilmiah, dll.) pada pos­tingan yang ber­judul Ber­bagi Cara Men­dapatkan Ide Pos­ting. Dalam komentar-komentar ter­sebut  ter­nyata banyak sekali ilmu yang saya dapatkan. Nah, agar ilmu itu tidak ter­lupakan sekaligus dalam rangka belajar ber­bagi, saya tulis ulang saja di sini (ten­tunya dengan beberapa suntingan).

Ber­ikut rang­kuman yang saya maksudkan:

Cara meng­atasi kebun­tuan / kekeringan ide (gagasan):

  • Jika meng­alami kebun­tuan lang­sung saja meng­am­bil segelas air putih dingin. Meneng­gak­nya sam­pai habis. Mening­galkan lap­top. Lan­tas keluar ruangan. Melupakan semua aktivitas yang ber­hubungan dengan blog.
  • Saat memasuki fase blank (kekeringan ide): Non­ton film, baca buku atau koran.
  • Saat aliran ide lagi kering: Gunakan tulisan lama dibuat dengan gaya baru.
  • Ketika kesulitan ide: Masuk gua, puasa 40 hari 40 malam karena sebelum 40 hari saja pasti sudah bosan di gua dan rindu untuk ber­teriak di blog. :D
  • Ketika kekeringan ide: Lang­sung saja jong­kok di WC sam­bil ngeden, pasti deh keluar ide-ide cemer­lang. :D

Sumber-sumber ide atau gagasan:

  • Sumber-sumber ide atau gagasan bisa dari mana saja:  buku, koran, majalah, televisi, papan iklan di ping­gir jalan, di dalam bus, kereta api, museum, per­pus­takaan, café, rumah makan, mall, ban­dar udara, gedung bisokop, video yang diton­ton, ketika sur­fing di inter­net, ketika blogwal­king meng­un­jungi blog-blog sahabat, ketika mem­baca pos­tingan di blog lain.
  • Di kehidupan yang dinamis ini detik demi detik, lang­kah demi lang­kah ber­jibun ide-ide ber­serakan. Di daratan di lautan dan di udara. Di 8 pen­juru mata angin ada ide yang siap kita petik.

Teknik-teknik men­dapatkan ide (agar ide tulisan selalu ada):

Antisipasi (Tin­dakan Peencegahan):

  • Menulis yang banyak selama masih lowong (ketika di masa produk­tif). Dengan kata lain, menam­bung tulisan merupakan salah satu cara lain meng­an­tisipasi masa unproduktif.

Tips men­datangkan ide:

  • Tang­kap setiap apa yang ter­lihat, ter­dengar dan ter­pikirkan, buat judul semen­tara lalu catat dalam buku kecil agar tak lupa.
  • Saat meng­alami sesuatu lang­sung saja ditulis supaya tetap fresh from the oven.
  • Meng­utip kata Ahmad Tohari, “kalau naek motor itu harus isi ben­sin”. Sama dengan menulis, kalau ingin banyak menulis, juga harus banyak membaca.
  • Menulis tidak perlu muluk-muluk, seriang hati kita saja. Bukan­kah dengan menulis bisa menen­teramkan hati gundah?
  • Sering “melihat” sekitar (beri per­hatian jangan EGP [emang gue pikirin]). Banyak mem­baca. Banyak ber­komen­tar di blog lain.
  • Tulis­lah apa pun yang ingin di tulis.
  • Cam­pur saja isi blog supaya fresh fikiran. Curahkan semua isi hati, tulis apa adanya.
  • Jangan menulis yang temanya sudah ditulis banyak orang, kalau ter­paksa, ya sudut pan­dang­nya jangan sama dengan yang sudah ditulis orang lain. Jangan menulis sesuatu yang sudah ramai di koran atau TV, karena orang nggak akan baca, kecuali karena alasan sekedar kun­jungan balik dowang.

Demikian rang­kuman ini disajikan. Bagi yang hen­dak ber­bagi pengalaman, bagaimana meracik ide men­jadi tulisan, silakan menulis­kan­nya di kolom komentar.

Related Post