Kearifan nilai-nilai sosial budaya lokal dalam aspek kegotongroyongan dan kes­wadayaan patut didayagunakan, diles­tarikan, dan dikem­bangkan. Untuk Apa? Agar men­jadi potensi efek­tif dalam pelak­sanaan pem­berdayaan masyarakat. Dalam kon­teks ini, skup tulisan ini hanya di tataran desa tem­pat saya ting­gal, yaitu di Desa Ciburial.

Nilai-nilai budaya daerah, khusus­nya budaya Sunda, sudah lama dan ber­laku dalam tata kehidupan masyarakat di Desa Ciburial. Nilai-nilai ter­sebut semes­tinya dapat difung­sikan dengan tepat dalam meng­atasi ber­ba­gai masalah kemis­kinan dan per­masalahn sosial lain­nya. Keguyuban, gotong royong, dan keber­samaan harus­lah senan­tiasa digalakan. Dalam hal apa? Tentu saja dalam melak­sanakan ber­ba­gai kegiatan kemasyarakatan dan pem­bangunan di ling­kungan tem­pat ting­gal dengan prin­sip sabilulungan. Apa gunanya? Setidak­nya (apa yang saya impikan), guna menyelesaikan ber­ba­gai masalah sosial masyarakat.

Prin­sip sabilulungan ini akan ter­asa dan ter­lihat begitu indah apabila dalam setiap kegiatan seperti dalam mem­bangun sarana dan prasarana sosial (misal­nya: pem­bangunan jem­batan, MCK, atau per­baikan saluran air yang dibutuhkan oleh masyarakat) dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat. Betapa indah­nya, apabila spon­tanitas masyarakat dalam menolong ang­gota masyarakat lain­nya yang ter­kena musibah, atau dalam mem­bantu mem­bangun rumah tidak layak huni, mewujudkan adanya lum­bung desa, pengadaan dana modal ber­gulir bagi keluarga mis­kin, dan penyeleng­garaan kegiatan sosial lain­nya, begitu tinggi. Hal ter­sebut merupakan per­wujudan ber­sama dalam pemak­naan istilah Sunda nulung kanu butuh, nalang kanu susah (bahasa Indonesia-nya apa ya??).

Intinya, kem­bali memak­nai dan meng­aplikasi nilai-nilai sosial budaya (dalam hal ini  aspek kegotongroyongan dan kes­wadayaan) merupakan ben­tuk upaya dalam meng­atasi ber­ba­gai masalah sosial yang ada. Semoga. Salam Bhin­neka Tung­gal Ika.

Related Post