Infor­masi bisa men­jadi obat dan bisa juga men­jadi penyakit. Infor­masi bisa men­jadi solusi dan bisa juga men­jadi masalah.

Dalam Infor­masi ter­kan­dung penapsiran dan proyeksi. Infor­masi merupakan pengetahuan dalam ben­tuk fakta atau pen­dapat ter­olah yang diterima seseorang. Dari sudut penerima, infor­masi itu diang­gap seba­gai suatu proses yang ter­jadi di dalam jiwa manusia apabila suatu masalah dan data yang ber­guna untuk pemecahan datang kepadanya. Oleh karena itu, infor­masi adalah stimulus yang dipahami melalui indera.

Infor­masi merupakan fakta tung­gal yang ter­pen­cil atau mung­kin juga merupakan keseluruhan kelom­pok fakta. Akan tetapi, bagaimanapun juga infor­masi itu merupakan suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan kon­sep. Infor­masi merupakan kesatuan intelek­tual yang diterima, sebong­kah “gedung pengetahuan”.

Infor­masi adalah hasil dari suatu proses. Infor­masi telah didefinisikan seba­gai seben­tuk pengetahuan. Ter­sirat dalam penger­tian infor­masi itu kon­sep arus. Infor­masi itu ber­gerak dari seseorang kepada lain­nya, yang apabila telah diserap, infor­masi itu ber­ubah men­jadi pengetahuan.

Dalam manajemen, infor­masi ber­guna untuk menun­jang sang manajer dan pengawas dalam melak­sanakan tugas dan mem­buat keputusan. Oleh karena itu, infor­masi harus­lah memenuhi tiga syarat utama, yaitu: tepat waktu, relevan, dan dapat dipercaya.

Masalah besar dalam manajemen adalah pengor­ganisasian, pen­sin­tesaan, dan penyebaran infor­masi. Kebanyakan per­usahaan dijang­kiti penyakit ”pulau-pulau infor­masi”. Banyak orang meng­etahui banyak hal, tetapi tidak ada sis­tem untuk menyatukan seluruh­nya untuk diverifikasi dan diterapkan untuk tujuan-tujuan yang spesifik.

Ketidakpas­tian menyelimuti banyak per­soalan yang men­jadi tan­tangan seorang manajer. Penang­kal bagi ketidakpas­tian adalah lebih banyak infor­masi yang relevan. Semakin banyak infor­masi yang ter­sedia, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk memprosesnya.

Tidak semua infor­masi itu ber­man­faat. Ter­lalu banyak infor­masi bisa menyulitkan dalam memisahkan yang ber­man­faat dari yang tidak ber­man­faat. Salah satu kunci dalam memp­roses infor­masi adalah bagaimana caranya agar selek­tif dalam men­dis­tribusikan infor­masi ke setiap ting­katan manajemen.

Analogi: Jika kita ber­usaha men­jadikan sebuah kom­puter lebih cerdas dengan mem­berinya lebih banyak infor­masi, ia akan mem­butuhkan waktu lebih lama untuk memp­roses­nya. Otak itu lebih lam­bat dari kom­puter. Jadi seperti kom­puter, otak manusia bisa men­derita karena kelebihan informasi.

Agar infor­masi men­jadi obat, agar infor­masi men­jadi solusi: Pilah dan pilih­lah infor­masi (ten­tunya) sesuai dengan kebutuhan!

***

Note: republish dari decib.

Ran­dom Post