Ketika kita melihat seorang bayi yang tengah merang­kak ke bibir kolam, naluri kita untuk menyelamatkan bayi ter­sebut pasti menyeruak mun­cul. Kata orang bijak, hal itu merupakan sifat dan bakat kebaikan dalam diri kita. Kebaikan alami ini dapat ber­kem­bang dengan baik atau bisa juga ter­halang per­kem­bangan­nya. Namun, pada dasar­nya kita semua memiliki sifat kebaikan ini. Seperti kata pepatah, “Naluri kemurahan hati ada dalam diri setiap orang; naluri malu ada dalam diri semua manusia; naluri kesopanan dan rasa hor­mat ada dalam diri setiap umat; naluri benar dan salah ada dalam diri setiap insan.”

Saya meyakini bahwa manusia telah dibekali bakat yang lebih diban­dingkan dengan makh­luk lain­nya di dunia ini. Manusia memiliki rasa yang khas dan juga naluri benar dan salah. Dengan modal rasa yang khas dan naluri-naluri ter­sebut manusia dapat mem­bedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Jadi pada dasar­nya semua manusia itu sama, sederajat. Manusia memiliki bakat kebaikan dalam dirinya. Manusia adalah makh­luk paling sem­purna di dunia. Yang mem­bedakan antara manusia satu dengan yang lain­nya adalah prosesi per­kem­bangan bakat kebaikan­nya tersebut.

Jika boleh diibaratkan, bakat kebaikan ini ibarat pisau. Jika pisau itu jarang diasah dan diper­gunakan maka pisau itu akan tum­pul dan ber­karat. Begitupun, saya kira, dengan bakat kebaikan di dalam diri. Apabila tidak dilatih (diasah) dan diaplikasikan (digunakan) maka bakat itu akan tum­pul dan ber­karat, bahkan bisa meng­hilang dari dalam diri. Apa jadinya dunia ini jika kebaikan sudah meng­hilang dari diri setiap insan(?)

Ran­dom Post