SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Bakat Kebaikan dalam Diri Manusia
October 1st, 2009 by Abula

Ketika kita melihat seorang bayi yang tengah merangkak ke bibir kolam, naluri kita untuk menyelamatkan bayi tersebut pasti menyeruak muncul. Kata orang bijak, hal itu merupakan sifat dan bakat kebaikan dalam diri kita. Kebaikan alami ini dapat berkembang dengan baik atau bisa juga terhalang perkembangannya. Namun, pada dasarnya kita semua memiliki sifat kebaikan ini. Seperti kata pepatah, “Naluri kemurahan hati ada dalam diri setiap orang; naluri malu ada dalam diri semua manusia; naluri kesopanan dan rasa hormat ada dalam diri setiap umat; naluri benar dan salah ada dalam diri setiap insan.”

Saya meyakini bahwa manusia telah dibekali bakat yang lebih dibandingkan dengan makhluk lainnya di dunia ini. Manusia memiliki rasa yang khas dan juga naluri benar dan salah. Dengan modal rasa yang khas dan naluri-naluri tersebut manusia dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Jadi pada dasarnya semua manusia itu sama, sederajat. Manusia memiliki bakat kebaikan dalam dirinya. Manusia adalah makhluk paling sempurna di dunia. Yang membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya adalah prosesi perkembangan bakat kebaikannya tersebut.

Jika boleh diibaratkan, bakat kebaikan ini ibarat pisau. Jika pisau itu jarang diasah dan dipergunakan maka pisau itu akan tumpul dan berkarat. Begitupun, saya kira, dengan bakat kebaikan di dalam diri. Apabila tidak dilatih (diasah) dan diaplikasikan (digunakan) maka bakat itu akan tumpul dan berkarat, bahkan bisa menghilang dari dalam diri. Apa jadinya dunia ini jika kebaikan sudah menghilang dari diri setiap insan(?)


25 Responses  
  • tyan writes:
    October 2nd, 20099:51 pmat

    pastinya kalau di dunia ini ga ada lgi orang baik..,
    dunioa ini akan hancur,,,

  • dasir writes:
    October 2nd, 200910:51 pmat

    Malam kang..apa kbr? Maaf ya br mampir nih..assalamu’alaikum..maaf kang, nitip ini ya..BELA NEGARA ALA LANSIA terima kasih,,salam hangat..

  • Dewi Yana writes:
    October 2nd, 200911:14 pmat

    Assalamu’alaikum,
    Rasulullah SAW: “Ketahuilah, sesungguhnya pada setiap jasad ada sekerat daging, apabila dia baik maka baik seluruh anggota jasad, apabila dia jelek maka jelek semua anggota jasad, ketahuilah dialah hati (HR. Bukhori)

  • Abdul Aziz writes:
    October 3rd, 20099:16 pmat

    Assalamu’alaikum,

    Kita dilahirkan dalam keadaan suci, dalam keadaan fitri. Semoga dengan Idul Fitri kemarin kita kembali fitri. Kita selalu berdoa “Minan ‘a’idin” , semoga kita kembali kepada fitri.
    Jadi, betul manusia itu sama, sederajat, memiliki bakat kebaikan. dan kewajiban kita menjaga dan mengembangkan kebaikan itu.

    Salam

  • noname writes:
    November 22nd, 20108:23 amat

    assalaamu’alaikum wr.wb..
    duh mau nimbrung nih
    nih ada tulisan bagus tentang bakat dan minat bagus deh:

    KESALAHPAHAMAN MEMANDANG MINAT DAN BAKAT
    Oleh : Lathifah Musa
    ? “Anak saya sangat berbakat di bidang arsitektur…… sejak kecil ?minatnya melukis dan menyusun miniatur bangunan.” Cerita seorang ibu ?tentang anaknya di sebuah oertemuan para orang tua murid sekolah ?menengah.?
    ? “Keponakan saya berbakat di bidang biologi, jadi ia memilih program ?studi IPA di sekolah ini.” Seorang wanita muda menimpali pendapat pertama. ??”Kalau anak bungsu saya yang masuk sekolah ini, aktif dalam kegiatan ?keagamaann….., mungkin ia berbakat jadi ustadz ya? Seorang ibu yang lain ?menambahkan. Demikian selintas obrolan di antara mereka yang berkisar ?pada masalah minat dan bakat.?
    ?*******?
    ? Sering kitaaa jumpai di masyarakat, pembicaraan tentang minat dan ?bakat seorang anak dalam konteks seperti contoh perbincangan para ibu di ?atas. Kebanyakan masyarakat masih memandang masalah minat dan bakat ?sebagai faktor kodrati, keturunan yang ditentukan oleh hereditaas. ?Tampaknya teori filsafat Nativisme masih membekas di sebagian masyarakat. ?Arthur Schopenhauer (1788-1860) pelopor dan tokoh filsafat teori ini ?berpendapat bahwa peerkembangan kepribadian hanya ditentukan oleh faktor ?hereditas. Menurutnya faktor ‘bawaan’ ini bersifat kodratidan tidak dapat ?diubah oleh lingkungan maupun pendidikan. Pendidikan hanyalah upaya ?untuk merealisasikan potensi ini. Walaupun tidak banyak yang menganut ?secara mutlak teeori ini, karena ada teori-teori lain yang muncul kemudian dan ?memandang bahwa faktor lingkungan pun berpengaruh selain herreditas, ?namun aliran nativisme inii cukup diperhaatikan dalam dunia pendidikan.?
    ? Berangkat dari teori-teori semacam ini, para ahli pendidikan Barat ?mengatakan bahwa ada sebagian manusia yang memiliki bakat memahami ?matematika, sedangkan yang lain berbakat dibidang bahasa dan seterusnya. ?Minat adalah kecenderungan untuk memilih aktivitas tertentu, dan bakat ?adalah faktor kodrati yang dianggap telah tertera dalam struktur genetik ?seorang anak sejak ia masiih dalam kandungan. Berdasarkan pandangan ?inilah dibangun berbagai teori pendidikan yang keliru.?
    Sekularisasi Pendidikan
    ? Dalam dunia pendidikan yang diwarnai oleh globalisasi kapitalisme, ?kesalahan dalam memahami fakta ‘minat dan bakat’ ini semakin teraplikasi ?dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Dunia sekularisme yang ?memisahkan cara pandang agama dari kehidupan menjadi ‘kerangka pandang’ ?dalam menyusun konsep-konsep pendidikan. Materi-materi pendidikan ?terpilah, tidak saling terkait. Ada pesan moral, etika, bahasa, pengetahuan ?alam, budaya dan agama, yang satu saama lain tidak saling bersentuhan. ?Bahkan dalam beberapa hal nilai-nilainya tampak saling bertentangan. Kita ?dapat melihat bagaimana teori relativitas maassa, evolusi materi dan postulat-?postulat kimiawi yang dalam penyampaiannya terlepaas jauh dari pemahaman ?manusia tentang Sang Penciptanya. Dapat pula dilihat adanya pertentangan ?antara prinsip-prinsip ekonomi dengan nilai-nilai kemanusiaan dan pesan-?pesan agama yang diajarkan. Tampak jelas adanya pemisahan ?aktivitas/perbuatan manusia dengan nilai ruhiyah. Demikian akhirnya manusia ?difahami dengan kerangka individualis. Manusia dianggap berbeda-beda, ada ?yang berbakat di bidang sains, ekonomi, politik dan ada yang di bidang ?agama. Semua ini seolah tidak terlepas dari faktor kodrati/hereditas yang ?mengarahkan kehidupan manusia, yaitu minat dan bakat.?
    Kesalahpahaman terhadap minat dan bakat ini juga menyebabkan ?konsep pendidikan – yaitu membentuk manusia berkepribadian – menjadi tidak ?sempurna. Ada warna pesimistis yang memperlemah idealisme dunia ?pendidikan saat ini. Pembentukan kerangka berfikir dalam diri manusia ?menjadi tidak sempurna pula. Kalaupun Islam dipelajari, maka semua itu tak ?lebih dari sekedar teori, karena tidak pernah dikaitkan dengan kenyataan. ?Pemahaman terhadap minat dan bakat semacam ini bagaikan tembok ?penghalang kebangkitan manusia. Kita dapat membayangkan, bagaimana jika ?seorang anak dianggap tidak berbakat sama sekali dalam bidang agama? Atau ?seorang anak terlahir dengan rangkaian faktor hereditas yang buruk dan jahat ?karena orang tua dan leluhurnya adalah penjahat? Maka ‘cara pandang ?semacam ini’ adalah musibah dan bencana yang besar bagi agama dalam ?sejarah kemanusiaan!?
    Pemahaman seperti ini bertentangan dengan apa yang yang telah ?disampaikan sendiri oleh Sang Pencipta manusia, Allah SWT, Pencipta dan ?Penguasa alam semesta, manusia dan kehidupan.?
    ?”…(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah ??(tersebut) itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang ?lurus…” (QS. Ar Ruum:30).?
    Fitrah anak harus terjaga dari ketergelinciran dan penyimpangan. ?Islam memandang keluarga bertanggung jawab atas fitrah anak. Segala ?penyimpangan yang menimpa fitrah tersebut menurut pandangan Islam ?berpangkal dari kedua orang tua atau pendidik yang mewakilinya. Pendapat ?itu didasarkan pada pandangan bahwa anak dilahirkan dalam keadaan suci ?lahir bathin dan sehat fitrahnya. Mengenai makna ini, Rasulullah saw ?bersabda dalam riwayat Abu Hurairah ra:?
    ?”Tidak ada seoranng anakpun, kecuali dilahirkan menurut fitrah, maka kedua ?orang tuanya-lah yang menjadikannya beragama yahudi, nasrani atau majusi; ?sebagaimana binatang ternak dilahirkan, adakah kamu dapati yang telah ?dipotong (dilobangi) hidungnya sehingga kamu tidak perlu lagi ?memotongnya?” (HR Bukhari).?
    Memahami Minat dan Bakat
    ? Setiap muslim yang telah baligh dan berakal diperintahkan untuk ?melakukan amal perbuatannya sesuai dengan hukum-hukum Islam. Wajib bagi ?mereka untuk menyesuaikan seluruh aktivitasnya dengan perintah dan ?larangan Allah SWT. Allah SWT berfirman:?
    ?”Apa yang dibawa/diperintahkan oleh Rasul (berupa hukum) kepadamu maka ?terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…”(QS Al ?Hasyr:7).?
    ? Beban hukum ini menurut syara berlaku ‘aam (mencakup seluruh ?perbuatan). Sebagaimana risalah Islam yang berlaku umum untuk setiap ?perbuatan, bukan perbuatan-perbuatan tertentu.?
    ? Allah SWT telah memberikan potensi yang sama bagi setiap manusia, ?yaitu berupa kebutuhan jasmani dan naluri. Diciptakannya akal bagi manusia ?dengan tabiat akal ini mampu memahami aturan-aturan Islam (hukum syara’) ?yang berkaitan dengan pemenuhan seluruh kebutuhan jasmani dan nalurinya.?
    ? Adapun mengenai otak sebagai salah satu unsur yang menyusun akal ??(potensi berpikir) manusia, dilihat dari segi anatominya tidaklah berbeda pada ?setiap individu. Manusia memiliki otak yang sama. Tidak ditemui adanya ?perbedaan dari segi pemikiran, yang disebabkan oleh perbedaan daya serap ?indera dan informasi yang diperolehnya serta perbedaan tingkat kekuatan ?nalar. Setiap otak manusia memiliki daya pikir terhadap sesuatu yang ?ditunjang oleh empat unsur yaitu otak itu sendiri, informasi yang diperoleh, ?fakta yang dapat ditangkap indera dan panca indera. Tidak ada bakat khusus ?pada otak sebagian manusia, yang tidak terdapat pada manusia yang lain. ?Perbedaan yang ada dalam otak hanyalah dalam kekuatan nalar dan kekuatan ?daya serap indera. Kekuatan ini tak ubahnya seperti kekuatan yang terdapat ?dalam mata ketika melihat sesuatu atau telinga dalam mendengarkan ?suara. Oleh karena itu setiap orang dapat diberi pengetahuan apapun. Otak ?memiliki ‘bakat’ untuk memahaminya. Dengan demikian pendapat-pendapat ?ilmu psikologi dan filsafat mengenai bakat-bakat tertentu pada otak manusia ?tidaklah benar.?
    ? Mengenai minat, pada faktanya ia adalah kecenderungan seseorang ?untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Minat bisa merupakan dorongan ?dari naluri yang fitri terdapat manusia, namun bisa pula dorongan dari ?pemikiran yang disertai perasaan kemudian menggerakkannya menjadi suatu ?amal. Minat yang hanya muncul dari dorongan perasaan tanpa pemikiran ?mudah berubah sesuai dengan perubahan perasaannya.?
    ? Perasaan yang tidak dikendalikan oleh adanya fikir (bukan hasil ?dorongan pemikiran), mudah dipengaruhi dan berubah sesuai dengan ?perubahan lingkungan, fakta yang dihadapinya dan lain-lain. Dalam kondisi ?ini minat seseorang bisa sangat lemah dan tidak stabil sesuai dengan ?perubahan lingkungan. Oleh karena itu pendidikan Islam bersifat ?mengarahkan dan menjaga minat tersebut agar senantiasa sesuai dengan ?pandangan hidup Islam. Dalam hal ini minat adalah sesuatu yang bisa ?diprogram dan diarahkan sesuai dengan yang dikehendaki dalam dunia ?pendidikan Islam.?
    ? Demikianlah kesalahan memahami fakta minat dan bakat yang ?dijadikan landasan membangun konsep pendidikan telah menyebabkan ?kerancuan dalam membangun teori-teori pendidikan. Pembagian ilmu ?menjadi ilmu pengetahuan alam, sosial kemanusiaan dan agama, serta ?membiarkan anak memilih dan mempelajari ilmu tertentu sesuai minat, ?kesanggupan dan daya serapnya adalah pandangan yang keliru. Hal lain yang ?merusak adalah pandangan yang menyatakan bahwa seseorang berbakat di ?bidang ilmu tertentu dan tidak berbakat di bidang yang lain. Semua ini akan ?mendorong banyak orang mempelajari ilmu tertentu dan menghalangi ?mempelajari ilmu yang lain. Kalau sudah begini, usaha perbaikan fundamental ?terhadap masyarakat dalam rangka mewujudkan generasi dengan pemikiran ?yang integral dan produktif akan terhambat. Tidak ada cara lain ?mengembalikan kecemerlangan pendidikan Islam kecuali dengan tetap ?berpegang teguh pada seluruh ajaran Islam dan menyingkirkan ajaran lain ?yang merusak. Hanya Islamlah jalan selamat, karena ia adalah tuntunan ?berfikir, tuntunan hidup dan risalah yang sempurna.?

    bagaimana pendapat Anda semua???
    wassalaamu’alaikum wr.wb


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 
»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa