Nik­mat, jika dihitung tidak akan per­nah ter­hitung. Akan tetapi, bukan ber­arti kita tidak bisa menyebutkan sebagian dari nikmat-nikmat ter­sebut. Kita masih bisa menyebutkan sebagian nikmat-nikmat ter­sebut alih-alih kita malah melupakan nikmat-nikmat yang sangat banyak ter­sebut. Sering kali kita malah melupakan nik­mat yang telah kita nik­mati. Salah satu beetuk melupakan nik­mat ialah dengan mengeluh.

Melupakan nik­mat sering ter­jadi karena kita selalu memikirkan apa yang belum atau tidak kita punya ketim­bang memikirkan apa yang sudah kita punyai. Melupakan nik­mat bisa juga ter­jadi karena kesom­bongan kita, seolah-olah apa yang kita dapatkan adalah hasil usaha kita semata tanpa peran serta orang lain. Bisa pula karena kita kurang mengingat-Nya sehingga kita juga lupa bahwa apa yang kita miliki adalah atas kehendak-Nya.

Melupakan nik­mat akan merusak men­tal kita. Hal yang paling mudah kita rasakan adalah per­asaan kita yang tidak enak jika kita meng­eluh, atau setidak­nya kita tidak memiliki per­asaan bahagia. Sebalik­nya jika kita ber­syukur per­asaan kita akan enak dan bahagia karena begitu banyak nik­mat yang telah kita nik­mati. Per­asaan yang enak (feel good) dan per­asaan bahagia akan mem­ben­tuk men­tal kemenangan bagi kita, kita akan lebih semangat men­jalani hidup ini. Ber­syukur akan mem­ben­tuk pola pikir ter­buka, sehingga akan ter­buka untuk nikmat-nikmat berikutnya.

Ber­syukur bukan ber­arti hanya meng­ingat nik­mat yang telah kita nik­mati dan melupakan yang kita inginkan. Bukan! Jus­tru ber­syukur seba­gai sarana untuk menam­bah nikmat-nikmat selan­jut­nya, sehingga wajar saat kita ber­syukur kita juga ber­usaha dan ber­doa untuk nik­mat selan­jut­nya.

Ran­dom Post